1 Bab V
Tentang Solusi
“Bentuk manusia yang berasal dari tetesan mani,
mengendap selama 40 hari dalam kandungan.
Jika dalam 40 tahun tidak mempunyai rasa dan kebajikan,
dia belum bisa disebut seorang laki-laki, kepolosan hidup dan anables.
Tidak memikirkan bahwa hal itu hanya bentuk fisik.”(Sa'di)
Sadarkah bahwa manusia sesungguhnya dilahirkan adalah pemenang kehidupan. Sebelum bersekutu dengan ovum, diri telah menyisihkan jutaan pejuang lainnya. Mulai sejak awal ejakulasi, diri bertarung dengan sesama, adu cepat, adu tangkas untuk mencapai ovum yang di kejar. Sungguh, diri adalah satu dari jutaan kontestan. So diri adalah seorang pejuang mengapa sekarang menjadi pecundang?
Mungkin seorang tidak mengerti dan tidak sadar apakah dirinya pejuang atau pecundang karena yang bisa menilai adalah orang lain. Walaupun penilaian itu berkesan subjektif. Sehingga bukan untuk menggurui jika ada sedikit nasihat atau masukan bagi seorang pecundang dan dijamin tidak akan merugikan .
Nasihat adalah “ Kalau ada orang yang mengkritik anda dan mereka berbicara langsung di hadapan anda, jangan dulu dibantah atau dijawab, tapi biasakan diri untuk mengucapkan secara jujur dari dalam hati perkatakan terima kasih. Di saat anda sudah tidak bersama mereka, sisakan waktu luang untuk merenungi dan memikirkan kembali, apa yang pernah dikritik dari diri anda.” Sedikit masukan bagi pecundang untuk mengatasi sifat yang terdapat dalam dirinya:
1Mengatasi Ketakutan
”Dalam kehidupan itu tak ada yang perlu ditakukan hanya perlu dipahami.”(
Marie Curie)
Ketakutan harus ditaklukkan kalau orang lain bisa mengapa orang pecundang tidak bisa.? Dengan keyakinan itu akan membuahkan hasil sesuai batas-batas kemampuan sebagai manusia. Melalui sentuhan langsung dengan ketakutan itu sendiri justru bisa berhasil mengasah keberanian dan memiliki nilai tersendiri
Apakah takut pada kematian?
Apakah takut terhadap sesuatu yang bisa menimpa orang yang dicintai?
Apakah takut sendiri di dalam kamar yang terkunci?
Apakah takut ketika berada di ketinggian?
Apakah takut pada air?
Apakah takut pada kegagalan?
Apakah takut pada beberapa jenis binatang?
Apakah takut ketika merasakan gempa?
Apakah takut kalau terjadi sesuatu yang jelek terjadi pada diri sendiri?
Apakah takut ketika terjadi petir atau kilat?
Apakah takut pada api?
Apakah takut pada kegelapan?
Apakah takut pada kemiskinan?
Apakah takut pada keterasingan?
Apakah takut pada ide-ide orang lain dan ucapan-ucapan mereka?
Apakah takut saat pertama kali jumpa dengan orang-orang yang masih asing?
Apakah takut berbicara di depan banyak orang?
Apakah takut pada sifat dengki?
Apakah takut pada atasan atau orang-orang yang memiliki kekuatan dan wewenang ?
Jika jawabannya “ya” berarti perlu merenungi diri dan lebih
menguasai emosi karena akan menyebabkan secara pikiran untuk mempresepsikan diri dalam sebuah posisi yang tidak mampu untuk diatasi. Langkah pertama untuk mencabut rasa takut adalah dengan kemampuan yang dimiliki untuk menganalisis diri sendiri atawa bisa juga dengan sedikit kekuatan yang ada mencoba untuk menaklukan ketakutan itu sendiri.
“Ketakutan menjadi jalan pintas menuju kekalahan.”(Aura)
2Kejujuran
3“Dan suaraku menjadi sangat keras dan penentangnya sangat menyakitkan, lagi saat kita membohongi diri sendiri.”
Kejujuran merupakan sifat yang terpuji tapi sangat sulit dilakukan bahkan oleh seorang pecundang yang ada di muka bumi.
Sebenarnya apa susahnya bicara jujur? Apa sih ruginya bicara jujur? Sepertinya tidak susah dan tidak ada ruginya apabila kita bicara jujur. Okelah bicara bohong untuk suatu kebaikan, tapi apabila hanya untuk gengsi atau untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya?
Wake up,man! Cos apakah dengan berbohong segala sesuatu akan menjadi lebih baik? Never! Mungkin tidak masalah bagi seorang pecundang berbohong tapi bagi orang yang dibohongi apakah menyenangkan? Perih!
***Integritas dan Kejujuran
Orang lain pasti ingat apa yang pernah kamu lakukan dan katakan.
Maka jangan membodohi diri sendiri.
Kebanyakan orang mengatakan kebohongan.
Jalanilah kehidupan ini dengan jujur.
Pilihlah teman-teman bergaul yang benar-benar bisa diajak kerja sama.
Jelajahilah semua rasa dunia.
Biarkankanlah perubahan terjadi dan nikmati semua itu.
Kalau memang berbuat salah,
Akui saja dan belajarlah untuk memperbaikinya.
Bicaralah langsung tanpa bertele-tele.
Lakukanlah apa yang telah kamu janjikan.
Tunjukkanlah bahwa kata-katamu adalah mutiara.
Bukan pepesan kosong
Kejujuran adalah simbol kemajuan individu dan harta yang sesungguhnya. Dia merupakan cahaya yang terus-menerus menerangi seseorang. Bukan pada apa yang tampak, tetapi pada apa yang ditimbulkan oleh cahaya kejujuran yang ada dalam hati manusia, yaitu ketenangan hati ditambah kepercayaan orang-orang disekitarnya. Cahaya kejujuran muncul dalam diri yang paling suci tidak mungkin didramatisir atau dibuat-buat. Dia adalah daya tarik yang dihasilkan dari kejernihan hati nurani yang bersih, jujur, hidup dan mencintai semua manusia.
“Satu butir kejujuran akan menghancurkan sekeranjang dusta sesungguhnya. Satu realita akan menghancurkan sekian banyak khayalan. Maka kejujuran adalah landasan utama dan mutiara yang berkilau.”
So dengan semua itu cobalah untuk berkata jujur ! Karena tidak ada gunanya untuk menutupi semua yang tidak diinginkan dengan berbohong. Dengan kejujuran maka sesuatunya akan lebih jelas, dan akan membuat lebih dipercaya oleh semua orang apabila mereka berbicara. So guy’s sadarlah!
3Grow Up!
"Cinta tidak selalu berawal dan berakhir seperti yang kita pikir.
Cinta adalah pertempuran, cinta adalah perang; cinta adalah kedewasaan."
Kedewasaan adalah proses menjadi (a process of becoming). Untuk menilai tingkat kedewasaan diri sendiri, pecundang perlu melihat dan mencari tanda-tanda pertumbuhan. Bacalah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dan jawablah dengan “ya” atau “tidak”. Ingat tidak ada skor dan tidak ada juga jawaban yang benar atau salah.
Daftar pertanyaan ini dapat membantu anda melihat diri anda sendiri secara obyektif, bila anda mampu melakukannya, anda sudah melangkah kaki menuju langkah pertama yang penting bagi pendewasaan diri ; yaitu menerima diri sendiri.
1–Apakah anda mau menerima tanggung jawab atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh bawahan anda?
2–Apakah bisa mendengarkan orang lain dengan sabar walaupun anda tidak setuju dengannya?
3–Apakah anda mau memeriksa kembali pendapat diri anda sendiri yang biasanya anda anggap sebagai sebuah kebenaran dan hal yang pasti?
4–Apakah anda mengambil satu atau dua minggu libur setiap tahunnya?
5–Apakah anda sanggup menerima reaksi atau umpan balik tentang diri anda, termasuk kritik yang tidak menyenangkan perasaan anda?
6–Apakah anda tidak begitu mengalami perasaan dongkol pada teman-teman sekerja anda? Apakah anda mudah menghadapi mereka?
7–Apakah anda berani mengambil sebuah keputusan yang tidak populer mengenai sesuatu yang anda yakini kebenarannya?
8–Apakah anda menyambut gembira saran-saran dan diskusi dengan bawahan anda?
9–Apakah anda merasa percaya diri bahwa anda dapat menangani
persoalan-persoalan anda?
10–Apakah anda merasa tenang dalam pertemuan-pertemuan dan
konferensi-konferensi?
11–Apakah anda secara sukarela menerima suatu tantangan baru atau tanggung jawab tambahan baru?
12–Apakah anda berusaha untuk memperbaiki keahlian dengan cara membaca buku bermutu, seminar dan belajar?
13–Apakah anda membina pembantu sehingga dapat mengambil alih sebagian pekerjaan dan tangung jawab anda?
14–Apakah anda mengembangkan minat baru dalam organisasi sosial, hobi dan lain-lain.
15–Apakah anda cenderung menolong orang lain ketimbang mengkritiknya?
16–Apakah anda senantiasa memperbaiki kemampuan anda dalam merencanakan dan menggunakan waktu anda?
17–Apakah anda belajar mewakilkan atau mendelegasikan tugas-tugas anda?
18–Apakah anda merasa baik dalam bergaul dengan bawahan anda dan tidak merasa terancam oleh mereka?
19–Apakah anda jarang marah?
20–Apakah anda mampu melihat segi-segi humor dalam kebanyakan peristiwa?
21–Apakah anda mempunyai waktu yangn cukup untuk keluarga anda?
22–Apakah anda mempunyai pendapat-pendapat baru mengenai diri anda sendiri?
23–Apakah anda mempunyai sahabat-sahabat baru?
24–Apakah anda mengubah pendapat dan perasaan anda mengenai beberapa hal?
25–Apakah anda bisa hidup tenang dengan persoalan yang belum anda temukan pemecahaannya?
26–Apakah cukup banyak orang yang minta dan mencari nasehat dan bantuan dari anda?
27–Apakah anda semakin banyak melakukan sesuatu dengan lebih sedikit usaha
28–Apakah anda mempunyai sesuatu keyakinan yang semakin kuat tentang kebenaran-kebenaran dasar, mengenai agama yang anda yakini?
4.Tanggung-jawab
“Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”.
Kedewasaan membuat seseorang mempunyai suatu tanggung jawab dalam hidupnya. Baik itu tanggung-jawab kepada orang lain bahkan pada diri sendiri. Jika tanggung jawab pada diri sendiri tidak dapat dilakukan, bagaimana bertanggung jawab kepada orang lain, baik itu perkataan maupun perbuatan. Banyak orang yang mengobral tanggung-jawab, dengan pertama mengatakan sebagai orang yang kaya dengan tanggung jawab dan pada kenyataannya malah lari dari tanggung jawab. Itulah ciri seorang pengecut.
Oleh karena itulah muncul satu peribahasa, lempar batu sembunyi tangan. Sebuah peribahasa yang mengartikan seorang pecundang yang tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sehingga dia membiarkan orang lain menanggung beban tanggung jawabnya. Bisa juga diartikan sebagai seseorang yang lepas tanggung jawab, dan suka mencari “kambing hitam”(kambing triak kambing) untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari perbuatannya bisa dengan cara menfitnah, yang dapat merugikan baik materi maupun perasaan orang lain.
Pecundang tidak bisa memahami arti dari sebuah tanggung jawab; seringkali dalam kehidupannya sangat menyukai pembelaan diri dengan kata-kata, “Itu bukan salahku!” Sudah terlalu banyak orang yang dengan sia-sia, menghabiskan waktunya untuk menghindari tanggung jawab dengan jalan menyalahkan orang lain, daripada mau menerima tanggung jawab, dan dengan gagah berani menghadapi tantangan apapun di depannya.
Oleh karena itu sedikit masukan untuk bisa bertanggung-jawab
1Lakukan apa yang pernah dijanjikan dengan sesuatu yang nyata, bukan isapan jempol belaka.
2Jangan lari dari tanggung-jawab tapi hadapi dengan berbesar hati, walaupun itu pahit orang pasti akan mengerti karena tidak semua orang pengecut
3Kalau lari dari tanggung-jawab jangan kemudian membebankan pada orang lain, dalam arti lempar batu sembunyi tangan
4Hadapi sebagai seorang kesatria yang dengan gagah mempertanggung-jawabkan segala sesuatu yang telah dikatakan ataupun yang telah dilakukan.
Sebagai seoreng laki-laki harusnya bisa bercermin dengan usia sudah beranjak melebihi usia cowok abg ataupun cowok brondong. Bertanggung jawab yang tidak hanya dengan kata-kata. Dengan bertanggung jawab akan menjadi lebih bijaksana. Dan kepecundangisme dalam hidup akan hilang berganti dengan label yang paling baru yaitu pejuang. So Good bye Loser, Welcome the Fighter
Pejuang atau Pecundang
Pejuang berlari mengejar dan menggapai mimpi hati
Pecundang hanya berdiam diri dan berharap mimpi terjadi
Pejuang tidak mengenal kata kalah dan pantang menyerah
Pecundang hanya berkeluh kesah dan mudah pasrah
Pejuang tak henti intropeksi dan perbaiki diri
Pecundang hanya berpuas dan berbangga diri
Pejuang mengisi hari dengan penuh arti
Pecundang hanya terpaku membiarkan waktu berlalu
Pejuang menebarkan harum kebaikan ke penjuru ruang kehidupan
Pecundang hanya membawa dosa bekal berkelana di dunia
Pejuang selalu dikenang karena mewariskan kebajikan
Pecundang dilupakan karena meninggalkan keburukan
Pejuang membentengi hati dari godaan dan rayuan setan
Pecundang menjerumuskan diri pada jebakan dan tipuan setan
Pejuang merindukan kematian dan berharap perjumpaan dengan Tuhan
Pecundang terlenakan kesenangan kehidupan dan terlupakan keabadian
Pejuang tetap ada meski sudah tiada
Pecundang sudah tiada meski masih ada
Tanyakan pada hati, bisikan pada nurani
Apakah kita pejuang ataukah pecundang ?
Sabtu, 06 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar