Sabtu, 06 Desember 2008

Bab III
Tentang C. i. n. t. a

“Genta bukanlah genta sebelum digemakan, lagu bukanlah lagu sebelum dinyanyikan, cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan.”(Pribahasa Italia)

 Cinta adalah sesuatu yang suci apabila sudah diikat dalam suatu tali pernikahan. Cinta dalam pernikahan sesuatu yang lebih tinggi dari kata sayang, sesuatu yang lebih tinggi dari kata “ aku cinta kamu” dalam pacaran (makan tuh cinta...!). Bagi seorang yang mempermainkan cinta, hanya bisa mengatakan tapi ga ada perhatian, hanya bilang suka tapi ditinggal pergi, hanya bilang bertanggung-jawab tap lari dari kenyataan, hanya bilang sayang tapi digantungin, ketika diputus malah coba menfitnah. It's very-very looser.
“ Cinta masuk ke pria melalui mata sedangkan cinta masuk ke perempuan melalui telinga.”(Pribahasa Polandia)
 Jika seorang pecundang belum mengetahui bagaimana untuk mencintai Yang Maha Suci, bagaimana mungkin dia mengerti cara untuk mencintai dirinya sendiri. Dan bagaimana pula cara dirinya mencintai orang lain, kalau belum tahu bagaimana bagaimana mencintai diri sendiri? Tentu tiada mungkin. Oleh sebab itu, apabila memilih seseorang untuk dijadikan teman, janganlah melihat dari dari garis keturunannya yang baik, tidak juga karena rumahnya yang bagus atau pakaiannya yang indah. Dan bukan karena penampilannya yang menawan, ditambah dengan untaian tutur kata yang lemah-lembut, karena jika tidak maka akan mudah tertipu dan yang menggunakan tipuan adalah pecundang.
“ Hanya ada dua orang yang bisa mengatakan yang sebenarnya tentang diri anda, yaitu seorang musuh yang kehilangan kesabarannya dan seorang teman yang menyayangi anda sepenuh hatinya.”(Antisthenes)
 Andai seorang pecundang mengetahui bagaimana cara dirinya memperlakukan Yang Maha Suci, maka dirinya memandang rendah hal-hal yang berbau keduniawian, seiring dirinya melakukan perbuatan baik dan tiada meyakitkan. Karena dengan begitu dirinya akan mudah menemukan seorang teman yang mengerti tentang nilai- nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Ketuhanan. Jika dalam segala hal dirinya selalu mengingat Yang Maha Suci, maka bisa dipastikan pecundang akan memandang rendah sifat-sifat yang berlagak keduniawian.
“ Teman sejati mengabaikan pagar rumah anda yang rusak dan mengagumi bunga-bunga dari halaman rumah anda.”(Aura)
 Mempercayai kemudian dikhianati adalah sesuatu yang sepantasnya terjadi, mencintai kemudian membenci bukanlah dari situ mengenal hati. Kalau tidak ingin dibenci, jangan mau untuk dicintai. Mempercayai untuk dikhianati, dicintai untuk dibenci, bukanlah itu, tidaklah berarti jika sudah mengetahui apa arti cinta sejati.
Ungkapan Gibran
Rasa cinta adalah hiburanku
Di kala malam medendangkan lagu-lagu kedamaian
Dan membangunkanku di waktu fajar
Untuk mengungkap makna hidup
Cinta yang dianugerahkan oleh Tuhan 
Akan membebaskan hati dari rasa dengki 
Dan tidak pernah menyakiti raga
Karena ia ada dalam jiwa
Ia adalah pertalian kokoh
Yang memandikan jiwa dalam ketabahan
Yang mengisi jiwa dengan karunia
Dialah kelembutan hati yang menciptakan harapan tanpa membingungkan jiwa
Dialah keelokan yang mengubah bumi menjadi menjadi surga dan mengubah kehidupan ini
Menjadi mimpi indah
  Cinta sejati tidak akan dipengaruhi oleh nafsu Karena nafsu adalah keinginan yang lepas dari kekangan cinta kasihyang tidak dikendalikan oleh akal sehat. Nafsu menerjang batas-batas kecerdasan berpikir dan kasih sayang manusia, Sehingga manusia tidak mengenal dirinya sendiri, hingga menyenangi apa yang harus dibenci. Percayalah, apabila menusia mencintai sesuatu benda bukanlah karena Allah yang telah memberikan kepadanya, tetapi seperti pemiliknya sendiri. Maka dia adalah seorang yang berzina; karena jiwa itu yang seharusnya tetap dalam persekutuan dangan Allah penciptanya, malah bersatu dengan mahluk lain.
Akal dan Nafsu
Berkatalah
Wanita ahli nujum untuk kedua kalinya bertanya kepadanya: Katakanlah kepada kami tentang akal dan nafsu
Mustofa menjawab:
Dalam diri kalian banyak medan perang, akal dan kesadaran kalian selalu bertempur melwan nafsu dan angkara dalam diri kalian.
Aku berharap aku menjadi pencipta kedamaian di dalam jiwa-jiwa kalian, karena itu akan aku rubah perselisihan dan perbedaan dalam unsur-unsur diri kalian menjadi sebuah keteraturan.
Tetapi bagaimana mungkin itu aku lakukan, selama kalian tidak menjadikan diri kalian pencipta-pencipta kedamaian juga, sampai mencintai unsur-unsur kalian semuanya.
Akal dan nafsu kalian keduanya adalah kendang dan layar bagi diri kalian yang luas
Andai layar kalian itu tersayat-sayat atau kendang kalian itu pecah, maka gelombang akan melemparkan kalian, sehingga kalian terdiam di permukaan laut.
Karena akal, jika tidak memberontak akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan nafsu jika tidak terpisah , akan menjadi bara api yang membara dengan sendirinya
Hiaso diri kalian dengan akal sehingga kalian akan sampai ke puncak nafsu , sehingga kalian bisa bernyanyi
Dan bakarlah dorongan nafsu kalian dengan selalu berfikir, sehingga nafsu kalian hidup dalam kendali akal, seperti biji(finiq) yang tumbuh dalam debunya
Semoga kalian memperlakukan hikmah dan keinginan kalian sebagaimana kalian memperlakukan tamu kalian di rumah kalian
 Jika seorang pecundang dapat berubah dan ingin mencintai karena hati, maka cintailah Tuhanmu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Jangan pernah merasa memilki ataupun dimiliki. Karena semua yang memiliki adalah pada diri-Nya. Kalau ingin mencintai seseorang maka jangan mengharap memiliki atau dimiliki. Jika mempunyai rasa itu, jangan anggap sebuah cinta, karena itu adalah nafsu. Lalu apakah itu nafsu yang menyeret pada kesesatan atau nafsu yang akan menjadi sebuah jalan untuk menggapai sisi terang? Tanyakanlah kepada hatimu.
“ Ya Allah berilah kekuatan untuk mengubah yang bisa saya ubah, berilah kesabaran untuk menerima yang tidak bisa saya ubah, berilah pengetahuan untuk mengerti perbedaannya.”(Fransiskus)
 Antara akal dan hati tidak dapat dipisahkan. Pecundang mungkin bisa menipu dengan ucapan yang keluar dari akal atau berkata tentang sesuatu padahal hatinya memungkiri. Dan orang-orang seperti itu adalah mereka yang dinamakan penjahat moral, pelacur cinta dan perampok rasa. Seorang kesatria akan berkata sesuai dengan akal dan hatinya, bukan semata karena hati atau akal saja. Dan seseorang yang arif dan bijaksana akan menggunakan akal, hati dan tetap suci untuk mengatakan sesuatu yang diinginkan.
“ Hal pertama dan terburuk dari semua tipuan adalah menipu diri sendiri.”
 Ketika cinta keluar dari mulut seorang pecundang dan seorang gadis yang mendengarnya tampak begitu bahagia, apa yang kau rasakan dalam hati? Sudah dapat dipastikan, akan merasa bahagia melebihi kebahagiaan gadis itu. Mengapa? Karena dirimu merasa sudah dapat memiliki ataupun dimilikinya. Kalau memang begitu perasaanmu, sungguh sangat menyedihkan jika dirimu mengatakan” aku mencintaimu”. Bukanlah lebih baik jika mengatakan” aku ingin memilikimu atau aku ingin menikahimu.”
“Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah yaitu cinta pada pasangan hidup yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta yang semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan.”(Ayat-ayat Cinta)
 Mengapa perasaan nafsu diucapkan dengan perkataan cinta? Apakah karena dirimu lebih mengerti atau hanya sekedar mengikuti apa yang selama ini dilakukan. Engkau berkata cinta tapi nafsumu yang berkerja. Lalu di mana akalmu selama ini?Apakah engkau takut jika mengatakan “ aku ingin menafsui mu” karena kebanyakan orang mengatakan bahwa nafsu adalah kejahatan. Lalu apakah kalau mengatakan “aku mencintaimu” dirimu berjalan dalam kebenaran di bawah cahaya Tuhan?
“Buktikanlah bahwa engkau lelaki sejati setelah itu barulah menikah. Meskipun seekor ayam jantan gagah berani dalam pertarungan. Dia tetap akan menyerang dengan sia-sia sebuah patung elang dari perunggu. Seekor kucing bagaikan singa dalam menangkap tikus. Tapi seekor tikus berani melawan seekor harimau.”(Sa'di)
 Tapi inilah kehidupan. Apa yang engkau lakukan tidak sepenuhnya diriku menyalahkan karena kamu berhak untuk tetap menjadi pecundang, kamu punya hak untuk mengatakan apa yang ingin kau ucapkan. Dan aku juga punya hak untuk mengatakan apa yang apa yang semestinya di ketahui. Mengetahui atau tidak bukanlah masalah bagiku. Karena kehidupan terlahir untuk berbeda dalam berpikir, tetapi tidak untuk membedakan yang berakhir dengan permusuhan. Kerjakan saja apa yang menurutmu benar dan aku juga akan melakukan seperi apa yang dirimu jalani yaitu melakukan apa yang menurutku benar.
“ Penampilan orang arif terlihat dari jubahnya. Dan dapat diketahui oleh orang-orang dengan mudah. Berusahalah untuk bersikap sopan. Pikirkan segala sesuatunya yang engkau dengar. Pakailah mahkota di kepalamu dan bendera di belakangmu. Meninggalkan kehidupan duniawi, kesenangan dan hawa nafsu. Untuk mencapai kesucian, bukan berarti hanya meninggalkan jubah kehidupan duniawi. Sangatlah penting untuk menunjukkan keberanian saat bertemu. Tetapi gunanya membawa senjata, saat berkelahi melawan banci.”(Sa'di) 
 Hai pecundang! Cinta itu berat, maka jangan berbicara tentang cinta jika dirimu sekali-kali belum mengerti apalagi memahami. Dan jangan pernah melihat atas nama cinta, jika dirimu belum siap. Jika hal itu engkau lakukan, maka hanya penderitaan yang akan engkau dapat. Lihatlah sesuatu atas nama selain cinta, sebelum kamu mengenal cinta dengan benar dan nyata. Kecuali memang dirimu memang ingin mengikuti seperti apa yang telah dilakukan, itu hak mu terserah dirimu karena aku hanya punya kewajibn untuk memberi tahu, tetapi tidak punya hak untuk melarangmu karena hanya Tuhan yang berhak untuk semua itu. Satu cerita sebagai renungan untuk memaknai cinta itu sendiri
  Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam memciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami, telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya bahwa saya menginginkan perceraian.
“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan.”
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya,”Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya.”
“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata,”Saya akan memberikan jawabannya besok.”
Hati saya gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan……………………………………
“Sayang, saya tidak bisa mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan membacanya.
“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor. Saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”
“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi. Saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika tua nanti, saya masih dapat menolongmu mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.”
“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena saya, tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku, saya tahu, ada banyak orang bisa mencintaimu lebih dari dari saya mencintaimu.”
“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki dan mata yang lain yang dapat membahagiakanmu.”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
“Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita. Saya sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.”
“Dan jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.
  Itulah cinta. Kita tidak pernah tahu apakah cinta yang diberikan sesuai yang diinginkan seperti lazimnya. Karena bisa jadi cinta yang diharapkan hadir dalam wujud yang lain yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Cos cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.
 Untuk pecundang, lakukanlah suatu tindakan tidak perlu banyak bicara. Karena mulut mu adalah harimaumu. Mulut atau ada yang menamakan bibir, mungkin hanya berbentuk sebuah daging kecil yang mungil. Namun apa yang keluar darinya dapat menyebabkan kehancuran ataupun kebaikan dunia. Lukanya kaki karena senjata itu mudah untuk diobati, tetapi lukanya hati karena cinta kemana obat akan dicari. Begitu besarnya akibat yang ditimbulkan oleh mulut sampai-sampai seorang kekasih Tuhan pernah berucap “ jika kalian beriman kepada Tuhan maka , berkatalah yang baik atau lebih baik diam.”Sungguh luar biasa apa yang bisa diperbuat oleh mulut yang begitu kecil.”
 “Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah. Begitu kiranya sang kekasih memberikan nasihat yang begitu bijaksana. Memberi dan memberi, itulah yang tersirat di dalamnya. Namun tahukah kamu beberapa hal lain yang tersirat di dalamnya. Memberi tanpa menyakiti , bersuara tidad menghina dan menyentuh tak ada yang bersimpuh.”
 Jika mengatakan hal yang buruk maka katakanlah itu buruk, jangan sebaliknya menutupi keburukan atas nama kebaikan. Jika kamu melakukan atas nama nafsu mengapa harus berganti nama menjadi cinta. Kalau kamu takut jika diketahui, jadilah seorang ksatria yang mempersiapkan diri untuk dihina. Jangan jadi pengecut yang berkedok kebaikan. Nafsu tetaplah nafsu dan selamanya dia tidak bisa menjadi cinta, meski dia memoles dengan berbagai rupa.
“ Apakah bisa seorang pelacur tua bersumpah dia masih perawan dan seorang polisi tidak pernah melakukan kekerasan kepada orang-orang? Seorang pemuda terlihat bagai seorang pahlawan di mata Tuhan, karena orang tua tidak mampu bangkit dari duduknya. Seorang pemuda harus berusaha kuat untuk menghindari nafsu meskipun orang tua tidak lagi memiliki nafsu birahi.”(Sa'di)
 Seberapapun kebodohan yang kau rasa, sengsara pun derita yang kau terima, seberat apa pun cobaan yang telah ada, bahkan kematian yang sudah tertulis, jodohnya sudah disiapkan untukmu, rejeki yang tersimpan, sedang engkau tahu? Kebaikan dan keburukan kapan itu datang? Semua itu akan dapat diubah oleh-Nya, kekuatan Yang Maha Suci.
“Apapun yang ada di benakmu, lupakan; apapun yang ada di tanganmu, berikan; apapun yang menjadi suratanmua; hadapi !”(Ben Salim)
  Untuk pecundang ada banyak hal yang harus dimengerti jika engkau ingin melakukan sesuatu, pikirkan dan renungkan baik-baik. Begitu pula jika dirimu mengatakan sesuatu, kamu harus berani untuk mempertanggungjawabkan. Jangan hanya bisa bicara, namun tiada fakta untuk membuktikan. Jangan sekedar melakukan tetapi takut untuk menerima akibat ya ng ditimbulkan. Jika dirimu meyakini ada cinta di dunia maka kamu harus bisa membuktikan. Dimana? Seperti apa? Kapan mulainya? Kapan berakhir? Siapa yang mempunyai? Siapa yang diberi? Kamu harus bisa membuktikan itu dengan nyata. Jangan sekedar bersuara, tapi tidak memberikan apa-apa. Jangan sekedar melakukan, tapi tidak tahu arah tujan. Jangan sekedar menjalani, tapi tiada pernah memahami.
“ Seorang laki-laki tanpa kejantanan seperti seorang wanita dan pemuja yang tamak seperti seorang pencopet di jalan raya. Wahai engkau yang memakai jubah putih dan dihormati oleh orang-orang. Sementara catatan perbuatanmu penuh dengan kejelekan. Tangan harus disembunyikan dari dunia. Tidak peduli apakah lengannya pendek ataupun panjang.”(Sa'di)
 Tiada cinta di dunia ini yang ada hanyalah perwujudan dan persifatan seluruh mahluk yang ada di bumi adalah perwujudan dari cinta itu sendiri. Hanya cinta yang dapat mencintai dan hanya cinta yang berhak untuk dicintai. Selain dari-Nya hanyalah cinta yang terlahir dari cinta.
Pada Mu
Ku titipkan secuil asa
Pada Mu
Ku harapkan setetes embun cinta
Kau limpahkan samudra cinta 
   

Tidak ada komentar: