Sabtu, 06 Desember 2008

ABOUT(LOSER,MAN,LOVE,REASON,SOLUTION)

Bab I
Tentang Pecundang

“Tidak tersedia tinta emas untuk sejarah pengecut.”
 Seseorang yang biasa hanya berbicara tanpa bisa membuktikan tentang apa yang telah dia katakan adalah pecundang. Seseorang yang suka berlebihan tetapi jika ditantang dia kabur juga termasuk seorang pecundang. Pecundang bisa juga disebut dengan pengecut. Karena pengecut itu menghindari segala kesulitan dengan berbohong. Dan pengecut itu sebelum mati sudah mati berkali-kali.
“Pekerjaan pengecut adalah mencurigai segalanya.”(Pribahasa)
 Seorang pecundang atau pengecut bisa dalam hal masalah hati bisa sangat penakut atau sama sekali bisa menjadi seorang buaya. Jika dia menjadi seorang penakut dan memberikan hati kepada seorang maka dia hanya pintar dalam pembicaraannya tapi dalam tindakan dia tidak melakukan apa-apa sehingga tidak terbukti realisasinya dari apa yang dikatakannya selama ini. Seperti puisi karya Jalaindra
Entahlah
Selalu saja tidak ada kata perjumpaan
Kau diam, aku diam membiarkan mata dan degup kita jantung bicara
Entah lidahku terlalu beku untuk sekedar mengucap sapa
Atau mungkin detak jantungku yang terlalu cepat hingga aku sesak napas
Atau mungkin kaulah yang terlalu angkuh untuk berkata
Atau mungkin aku?
Tidak aku sadari, aku telah membiarkanmu bermain sepuasnya di dalam diriku
Menggelitik dan menandai setiap jejak keberadaanmu dengan segarit kenangan
Yang membekas dalam ingatan
Andai aku bisa menghapusnya, semudah aku menghapus goresan-goresan di dinding
Atau menimpanya dengan goresan yang lain
Tapi ia membekas begitu dalam, meski hanya segaris kenang
Akan perjumpaan yang begitu singkat tanpa kata
Adakah aku laki-laki pengecut?
Yang tak sanggup berucap sepatah kata di depanmu?
Dan hanya bisa bermain-main dengan kata-kata di dalam pikiranku sendiri?
Ah persetan dengan anggapan semua orang-orang itu,
Persetan dengan omongan buku-buku penuntun itu
Ini masalah rasa yang tak sanggup untuk diutarakan lewat kata-kata….
Apabila dia sudah berubah menjadi buaya dia sudah melakukan tindakan tapi yang dibicarakan tetap saja “bullshit” ini sebenarnya lebih meyakitkan daripada seorang penakut karena seorang buaya sudah melakukan tindakan yang pada akhirnya semua itu hanya omong kosong belaka. 
“ Kebohongan berlawnan dengan kebenaran juga sering berlawanan antar mereka sendiri.” (Daniel Webster)
 Sebagai buaya darat biasanya hanya bermodal tampang lumayan ganteng( dari hongkong) ataupun bersaku tebal. Jika modal itu tidak ada maka hanya perlu pembicaraan yang menarik hati lawan bicaranya, karena seorang perempuan dapat tertipu dari pendengarannya. Playboy cap kampak ini cuma bisa omong doang dan ketika digertak ataupun di minta pertanggung-jawaban dia akan lari tunggang langgang atau bersembunyi yang tidak diketahui rimbanya.
“Pengecut itu mengancam pada waktu ia sendiri selamat.” 
( Johann Wolfgang Von Goethe)
 Sifat bakat seorang pecundang adalah berbohong. Tidak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tukang ngelaba, cuma berkata tanapa disertai dengan perbuatan apa yang pernah dikatakannya, atau istilah kerennya NATO (Not Action Talk Only)
Puisi Marah
Oh bersiaplah menerima sumpah serapahku
Oh bersiaplah menerima muntah mantihku
Aku sudah berlari seperti halilintar
Sudah kutabrak semua aspal dan trotoar
Kini saatnya untuk mengumpat 
Sudah...sudah
Habisi saja hidup ini
Ambil peluru emas
Kokang pistolmu
Pilih kepala atau jantungku
Kau akan mengingat selamanya
Kau akan mengingat selamanya
 Pecundang hidup dalam dalam kepura-puraan yang digunakan untuk melakukan aji “mumpungisme” untuk mengelabui orang di sekitarnya. Pura-pura setia ga taunya setia(selingkuh tiada tara), pura-pura tanggung-jawab ga taunya ambil langkah seribu untuk lari dari tanggung-jawab, pura-pura rendah hati ga taunya tinggi hati, pura-pura baik dengan semua orang ga taunya hanya dengan orang tertentu, dan pura-pura yang lain. Kepura-puraan tidak akan membuat seorang pecundang semakin baik malah semakin buruk. Jika bisa berubah, sebaiknya mereka mulai untuk selalu berterus-terang.
Terus Terang Terus
Tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan, bukan karena terlalu berat atau kekuatan tidak memadai. Namun karena tidak mau berterus-terang. Hidup dalam kepura-puraan tidak memberikan kenyamanan. Bersikaplah apa adanya. Bila ada kesulitan jangan tolak bantuan. Sikap terus-terang membuka jalan bagi penerima orang lain. Persahabatan dan kerjasama membutuhkan satu hal yang sama yaitu keakraban. Keakaraban tercipta bila satu sama lain saling menerima. Sedangkan penerimaan yang tulus, hanya terwujud dalam kejujuran dan sikap terus-terang. Ketidakterusterangan bagaikan bunga mawar plastik dengan kelopak dan warna yang sangat sempurna, namun tidak mewangi. Walaupun mawar aslinya segera layu dan tidak seindah yang palsu, tetap saja semua orang menyukai bunga mawar yang asli, mengapa? Sebab ada detak kehidupan pada mawar yang asli itu. Kejujuran hidup adalah hidup alami yang sejati. Hidup ini tidak terus terang, sama saja membohongi hidup itu sendiri. Kita bisa memilih untuk hidup apa adanya dan berhak menikmati kehidupan di dunia ini atau hidup berpura-pura tanpa keterusterangan dalam dunia ilusiyang tiada henti. Sudah berapa sering dan sampai lama hidup untuk dalam kondisi tidak terang terus???
 Seorang pecundang tidak bisa menjadi seorang manusia sejati, karena manusia sejati di masa ini pun sudah habis di makan zaman. Karena bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan manusia menjadi sejati. Seseorang tidak bisa menjadi manusia sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seseorang tidak dengan sendirinya menjadi manusia sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seseorang belum menjadi manusia sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seseorang tidak menjadi manusia sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seseorang meskipun dia seorang idola yang dikagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaharu, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi manusia sejati!
Pengecut
Buka dada mu
Tepuk ia sampai merah
Kau lelaki bukan rembulan 
Kau lelaki bukan rembulan
 Seorang pecundang adalah seorang yang suka mengobral janji. Mereka berkata seolah dengan mimik muka yang meyakinkan akan menepati janjinya, tapi pada kenyataan “talk only.” Jika kita lihat dari luar kepribadiannya mungkin seperti orang yang dapat dipegang janjinya hanya dilingkungan orang-orang yang diseganinya tapi untuk orang-orang yang dipermainkan semua omongan seorang pecundang tidak bermakna sama sekali. Jika boleh menyamakan dengan tokoh pewayangan, sosoknya hampir mirip dengan tokoh Sumantri.
Sumantri
Dalam tokoh pewayangan Sumantri adalah yang paling kontroversial karena dikategorikan sebagai satria dan prajurit utama. Sumantri mempunyai kesan “loma” (murah) , memiliki prinsip praktis yang teguh, “ satu antara kata dan perbuatan.” Bila ia berkata merah ya merah, putih ya putih tidak bakal merah njobo putih jero kuning (merah luar putih dalam kuning). Tapi hal itu tidak terbukti karena Sumantri sering mengingkari janji kepada adiknya, Sukasrana yang kebetulan berwajah buruk(raksasa kerdil), tetap sangat polos dan luhur budinya. Sumantri selalu saja mengingkari janji dengan berbagai tipu daya kepada Sukasrana sehingga menyebabkan kematian adiknya tersebut. Janji-janji kesanggupan Sumantri selama ini hanya “ lamis” belaka. Justru pantas disebut “njobo putih njero kuning” atau bisa juga dikatakan “esuk dele sore tempe.” Ini bisa dibaca dalam Serat Tripama, yang berbunyi sebagai berikut:
Katri mangka sudarseneng Jawi,
pantes sagung kang para prawira,
anulada sakadare
mring lelabuhanipun
haywa nganti tinggal palupi, 
manawa tibeng nistha,
ina hesthinipun,
sanadyan tekading buta,
beda-beda panduk panduming dumadi,
marsudi ing kotaman.
Arti:
Ketiganya merupakan tokoh utama (Sumantri, Adipati Karna, Kumbakarna) tanah Jawa yang perlu diteladani sebisanya oleh para perwira. Khususnya mengenai pengabdian dan pengorbanannya.
Jangan hendaknya melupakan suri tauladan ini jika ingin terhindar dari sikap hina dan nista. Meskipun berwujud raksasa, tetapi sifat dan sikapnya berbeda-beda. Ada yang senantiasa menghargai keutamaan.
Diantara ketiga tokoh yang terdapat dalam Serat Tripama hanya Sumantri yang kurang memenuhi syarat untuk ditampilkan sebagai teladan. Sehingga kesimpulan umum yang bisa diambil tentang sumantri adalah bahwa ia bukanlah tokoh teladan yang sempurna ditinjau dari segala segi. Sumantri jelas tidak sama dengan Duryudana atau Rahwana. Ia bukan penjahat tetapi satria luhur dengan jiwa keprajuritan yang pantas di contoh, tetapi sebagai manusia seutuhnya ia memiliki cacat yang cukup besar yakni kurang dapat menepati janji.  
  Hal ini sama seperti dengan seorang pecundang, karena hanya sedikit orang yang cermat betul untuk bisa mengetahui sifat seseorang seperti itu. Jika dilihat dari luarnya mungkin termasuk orang yang disegani karena kebaikan hatinya tapi bagi orang-orang yang disakitinya cuma ingin mengumpat di depan pecundang tersebut. 
“ Saat aku menaiki tangga aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang tak ada di sana sebelumnya, dia tidak ada lagi di sana hari ini. Aku berharap dia sudah pergi jauh.”(Hughes Mearns)
 Apabila manusia sejati diumpamakan sebagai laki-laki karena sesungguhya pecundang itu adalah identik dengan laki-laki. Maka perempuanlah yang sudah pasti menjadi obyek yang tersiksa.
Penyiksaan psikis akan membuat penderitaan bagi pihak perempuan yang dikecewakan. Sehingga tidak dapat berpikir jernih sampai kesadaraannya bisa pulih kembali. Bahwa ia sadar untuk melupakan kekecewaan yang hanya membuang energi dan waktu saja.
Kesadaran
Pada suatu tempat di lubuk terdalam dari kesadaran kita terbentang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang dicari semua manusia
Begitu kesadaran kita merosot, kita kehilangan perasaan-perasaan cinta dan pemahaman dan mengalami kehampaan, kebingungan dan keputusasaan
Begitu kesadaran kita naik, kita mendapatkan kembali kemurnian pemikiran dan pada gilirannya mendapatkan kembali perasaan-perasaan cinta dan pengertian kita
  Pecundang tidak akan pernah memahami perempuan dalam hal apapun. Mereka tidak memahami 
jika ada mahluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan laki-laki, itulah perempuan.
jika ada mahluk yang sanggup menaklukan hati hanya dengan senyuman, itu perempuan. 
jika ada mahluk yang menggunakan perasaan bukan logika itulah perempuan. 
Perempuan tidak butuh argumentasi yang hebat dari seorang laki-laki, tetapi dia hanya butuh jaminan rasa aman dari seorang laki-laki, karena dia ada untuk dilindungi tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosi. Perempuan tidak tertarik kepada fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tapi ia butuhkan adalah perhatiannya. Kata-kata yang lembut, ungkapan kasih sayang yang tulus yang baginya. 
Pecundang
Kubur aku tanpa nisan
Jangan tabur bunga
Kerikil saja
Setelah itu pergilah
 Bila seorang pecundang memahami seorang perempuan itu pun hanya kepura-puraan belaka yang diwujudlkan dengan tingkah nya yang sok cool, sok idih, sok iyes. Kadang pecundang memberikan sedikit pengertian walau itu hanya kesan jaim yang diberikannya dengan gaya yang sok suci “shitt”muci . Orang-orang seperti tidak mempunyai rasa malu atau mungkin urat malu para pecundang sehingga tidak merasakan sakitnya, sakit hati. Muka mereka sudah jadi tembok “ rai gedek” kalau kata orang jawa. Mukanya sudah bebal seakan-akan pecundang sudah bersahabat dengan malu sekian tahun lamanya
Bersahabat Dengan Malu
Sesungguhnya sebagian dari apa yang dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, “ Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.”(HR. Al Bukhari)
Jika sudah menjadi mahasiswa dan masih 100% mengandalkan biaya dari orang tua ditambah indeks prestasi pas-pasan dan tidak lulus-lulus, kalau tidak malu, berbuatlah sesukamu!
Jika seorang pegawai dan dalam kondisi krisis ini tidak banyak yang dikerjakan, namun setiap bulan tetap menerima gaji, apalagi tidak banyak tuntutan dari perusahaan, kalau tidak malu berbuatlah sesukamu!
Jika seorang suami tidak mampu memimpin keluarga dan tidak mau mengasah diri, kalau tidak malu, berbuatlah sesukamu!
Jika seorang pecundang, tidak mau bertanggung-jawab dengan apa yang dilakukan, tidak mengatakan kejujuran dan selalu melempar kesalahan dengan menfitnah orang, kalau tidak malu maka berbuatlah sesukamu!
Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Fushilat(41):40)
 Seorang pecundang adalah seorang yang tak pernah bermimpi atau mungkin malah seorang pemimpi besar tapi tak pernah terwujudkan karena dia tidak pernah berusaha untuk mendapatkannya. Mereka mengaku seorang intelek dengan wawasan yang luas tapi pada kenyataannya hanya isapan jempol, karena ketika dimintai tanggung jawab mereka bersembunyi dan mengunci mulut mereka rapat2. Mereka hanya bermimpi memimpikan yang ta pasti. Seprerti terdapat pada tujuh sifat pemimpi, ada beberapa sifat yang sesuai banget dengan pecundang
Tujuh Sifat Pemimpi
1Tidak pernah bermimpi
2Adalah kelompok pemimpi yang ingin bermimpi tetapi tidak berani bermimpi, Sebab hidupnya dirudung ketakutan demi ketakutan. Sehingga bermimpi saja tidak berani. Ini adalah kelompok orang pengecut.
3Bermimpi masa lalu
4Kelompok pemimpi yang ingin bermimpi tetapi mimpinya hal-hal masa lalu. Sebab hidupnya dirundung rasa kekesalan yang tidak perlu sehingga mimpi beraninya hanya masa lalu. Mereka adalah kelompok orang yang rasional. Mereka membuat banyak alasan untuk menutupi kelemahannya.
5Pemimpi yang bermimpi namun mimpinya kecil
6Kelompok pemimpi yang hidupnya dilanda rasa minder yang tidak perlu. Mereka ini adalah kelompok orang minder. Mereka mengecilkan kapasitas yang sebenarnya sangat besar.
7Peminpi yang bermimpi besar, namun tidak siap
8Kelompok pemimpi yang hanya bagus saat pembuatan blue print. Namun tidak menyiapkan jalan ke arah mimpinya. Mereka juga kelompok yang tidak bersabar sehingga hanya pandai membuat proposal hidup yang sangat bagus tapi tidak aplikatif.
9Pemimpi yang bermimpi besar namun setelah tercapai mimpinya menjadi mudah puas
10Kelompok orang yang hanya puas untuk memuaskan dirinya sendiri. Sehingga tidak mensyukuri potensinya yang sangat luar biasa.
11Pemimpi yang bermimpi besar, setelah tercapai bermimpi besar lagi, begitu dan seterusnya
12Ini adalah kelompok orang yang punya optimalisasi, sabar dan syukur.
13Pemimpi saja yang bermimpi, namun pada level mimpi basah
14Kelompok pemimpi bagi laki-laki yang sudah memasuki duina dewasa. Namun bukan berarti akan siap menghadapi hidup. Mereka ini adalah kelompok orang yang hanya dewasa dari segi fisik. Sehingga secara fisik dewasa, namun belum tentu berprilaku dewasa.  
 Seorang lelaki tetap seperti pecundang bila dia masih kerasan sebagai pecundang. Dia tidak akan berubah walau seribu langit menimpanya. Dia juga tidak pernah sadar dengan yang dilakukannya pada orang-orang disekitarnya khususnya orang-orang yang pernah disakitinya, karena seorang pengecut tidak pernah menjadi laki-laki sejati.
“Hidup adalah tentang sebuah pilihan. Tak ada pilihan yang mutlak benar ataupun mutlak salah. Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Cuma kadarnya saja yang berbeda-beda dalam setiap pilihan. Dan seorang laki-laki sejati adalah seseorang yang secara tegas berani mengambil suatu pilihan, menjalaninya dengan kesungguhan hati, dan dengan kelapangan jiwa menerima segala tanggung jawab atas pilihan tersebut.”

Tidak ada komentar: